Showing posts with label Film/anime. Show all posts
Showing posts with label Film/anime. Show all posts

Wednesday, July 19, 2017

Transformers The Last Knight: Seperti Menonton Trilogi Pertamanya

Review Transformers The last KnightTransformers The Last Knight: Seperti Menonton Trilogi Pertamanya



Film Transfromers The Last Knight telah tayang di seluruh bioskop-bioskop Indonesia, lalu apakah film ini layak untuk ditonton? Berikut review lengkapnya.

Sinopsis

Transformers: The Last Knight adalah film kelima dari jajaran film live action Transformers. Film kelimanya ini kembali menceritakan tentang petualangan Cade Yeager (Mark Wahlberg), seorang teknisi sekaligus penemu yang terjebak dalam kondisi peperangan robot dan berpihak kepada Autobots.
Kali ini para penonton akan dibawa melangkah jauh ke abad pertengahan, di mana zaman kegelapan dan peperangan antarkerajaan masih berkecamuk. Diceritakan bahwa ras Transformers sudah ada sejak zaman dahulu di bumi.
Cade Yeager kembali dipercaya oleh para Autobots untuk menyelesaikan sejarah lama dan konflik besar yang belum juga berakhir antara Autobots dengan Decepticon, ditambah lagi kurangnya kepercayaan manusia sejak film keempatnya membuat masalah semakin rumit.
Apakah Quintessa, pencipta dari Transformers yang selama ini dicari oleh Optimus Prime dapat memberikan pemecahan masalah? atau justru membuatnya semakin sulit?

Film ini kembali dengan rasa trilogi pertamanya

review transformers the last knight
Sejak memasuki film keempat, memang telah diketahui bahwa alur cerita film Transformers berada beberapa tahun setelah film ketiga. Di film itu, para Transformers sudah tidak lagi dipercaya oleh manusia, karena kehadirannya selalu membawa perang dan kerusakan bagi para penduduk bumi.
Michael Bay sendiri mengatakan bahwa film ini meskipun berada di alur waktu yang sama, tetapi memiliki rasa baru dan berbeda dengan tiga film sebelumnya yang dibintangi oleh Shia LeBeouf. Namun, Transformers The Last Knight sukses membawa kembali rasa dari trilogi pertamanya.
Tentu hal ini dipengaruhi oleh kemunculan tokoh-tokoh dari trilogi pertamanya, sebut saja aktor Josh Duhamel yang kembali memerankan Kolonel Lennox, atau Agent Simmons dari tiga film pertama yang kembali sukses memecahkan misteri yang ada.
Bahkan, tokoh utama dari tiga film itu kembali muncul meskipun hanya menjadi cameo yang sangat singkat, kamu semua tahu siapa tokoh utama di tiga film pertamanya kan?
Tidak hanya para tokoh dari tiga film pertamanya, beberapa Transformers lama pun kembali muncul, termasuk seorang tokoh Decepticon!

Optimus bukanlah tokoh utama, namun tetap poin paling menarik

review transformers the last knight
Sejak awal kemunculan trailer dari Transformers: The Last Knight, semua orang sudah berspekulasi bahwa Optimus Prime akan berpindah sisi menjadi jahat, lalu berbalik melawan Autobots dan manusia.
Semua spekulasi itu tidaklah salah. Karena satu dan lain hal, pertarungan antara Optimus Prime melawan Bumblebee benar-benar terjadi, dan Optimus memang berada di pihak lawan.

Bumblebee memasuki masa kejayaannya

review transformers the last knight
Berkesinambungan dengan poin sebelumnya, di sini peran Bumblebee jauh lebih diangkat oleh sang sutradara, bahkan melebihi sang pemimpin, Optimus Prime. Mungkin semua ini dilakukan demi mengangkat citra Bumblebee yang nantinya akan mendapatkan film solonya.
Meskipun belum sepenuhnya posisi pemimpin Autobots diberikan pada robot kuning ini, tetapi Optimus sendiri telah percaya, bahwa “Bumblebee” yang dia kenal sebelum Cybertron hancur sudah kembali, bukan robot manja tak bisa berbicara seperti film-film sebelumnya.
Sejarah dari Bumblebee juga diceritakan, untuk yang ini sepertinya kamu harus melihat dari filmnya itu sendiri...



Film Sweet 20, Nenek Bawel ala Tatjana Saphira

Nenek Bawel ala Tatjana Saphira



MALAM kian larut dan dingin. Nenek Fatmawati (Niniek L Karim) berjalan gontai dan wajahnya menyiratkan kesedihan. Betapa tidak, anak semata wayang yang dia sangat sayangi, Aditya (Lukman Sardi) akan memasukan Fatmawati ke panti jompo. Pasalnya, kehadiran Fatmawati menimbulkan konflik di antara Aditya, istrinya Salma (Cut Mini), dan dua anaknya, yakni Luna (Alexa Key) dan Juna (Kevin Julio).
Tanpa sengaja malam itu Fatmawati melihat studio foto Forever Young. Dalam benak dia muncul keinginan untuk difoto agar kelak foto itu bisa dipakai saat pemakamannya. Sang fotografer (Henky Solaiman) berjanji akan membuat Fatmawati 50 tahun lebih muda dari usianya. Tak ada yang mengira jika ucapan sang fotografer terwujud. Keluar dari studio foto, Fatmawati berubah menjadi gadis muda berusia 20 tahun (Tatjana Saphira).
Dari situlah petualangan hidup Fatmawati dimulai. Dia mengubah penampilannya dengan dandanan unik ala perempuan dari era 1960-an dan bergaya klasik. Untuk menutupi identitas dirinya Fatmawati mengganti namanya dengan Mieke Wijaya, seperti nama aktris favoritnya. Sementara itu, putranya Aditya mulai resah dan mencari kemana ibunya pergi.




Sosok Mieke yang cantik tentu mencuri perhatian. Apalagi suara Mieke merdu karena dulu Fatmawati menyimpan cita-cita untuk menjadi penyanyi. Kehadiran Mieke juga membuat tiga pria jatuh hati, yaitu Juna, Alan (Morgan Oey), dan Hamzah (Slamet Rahardjo).
Juna yang notabene cucu Mieke malah meminta Mieke menjadi vokalis bandnya. Sementara itu, sosok Alan yang seorang produser televisi hadir karena dia tertarik dengan kecantikan dan suara Mieke. Tak ketinggalan ada Hamzah yang menyimpan cinta untuk Fatmawati. Saat tahu Mieke adalah Fatmawati, Hamzah makin jatuh hati.
Hal ini tentu membuat Mieke pusing. Di satu sisi, dia tetap rindu pada kehidupannya sebagai Fatmawati. Dia ingin hidup tenang lagi bersama Aditya dan keluarganya. Akan tetapi, di sisi lain, sebagai Mieke, Fatmawati seperti meraih mimpi masa lalunya. Dia berhasil menjadi penyanyi dan menikmati masa mudanya yang bugar kembali. Bahkan, Fatmawati kembali merasakan jatuh cinta.
Suatu hari sebuah peristiwa terjadi. Di sinilah Fatmawati berada di persimpangan. Apakah dia akan tetap menjadi Mieke atau kembali menjadi Nenek Fatmawati dan pulang kepada keluarga dan hidupnya?

Film adaptasi

Film drama komedi "Sweet 20" yang akan tayang 25 Juni 2017 merupakan adaptasi resmi dari film "Miss Granny". Di negara asalnya, yaitu Korea Selatan, "Miss Granny" merupakan film box office pada 2014 dengan meraih 8,7 juta penonton. Kesuksesan itu mengantarkan "Miss Granny" diadaptasi ke beberapa negara dan sama-sama meraup sukses, misalnya di Tiongkok dalam judul "20 Once Again" (11,65 juta penonton) dan di Vietnam dalam judul "Sweet 20" (1,65 juta penonton).
Di Indonesia, kisah "Sweet 20" diproduksi Starvision dan CJ Entertainment dengan menggandeng sutradara Ody C Harahap dan penulis skenario Upi. Di tangan Ody dan Upi, "Sweet 20" menjadi film adaptasi yang disesuaikan dengan kultur Indonesia. Hasilnya, penonton yang sudah menyaksikan "Miss Granny" versi Korea akan tetap merasakan ruh aslinya tanpa kehilangan rasa Indonesianya.
Salah satu daya tarik "Sweet 20" adalah ensambel pemain yang terdiri atas pemain senior dan junior. Betapa serunya melihat Slamet Rahardjo dan Niniek L Karim bisa tampil membaur dengan Lukman Sardi, Cut Mini, Kevin Julio, dan tentunya Tatjana Saphira. Dengan lepas, Tatjana tampil menjelma sebagai nenek-nenek berusia 20 tahun tapi bawel, galak, dan sarat petuah bijaksana.
Khusus untuk Tatjana Saphira, film ini menjadi pembuktian dia untuk diperhitungkan sebagai aktris muda yang sedang bersinar. Tak hanya berakting, pada "Sweet 20", Tatjana Saphira juga menyanyikan semua lagu soundtrack yang ditampilkan. Ada tiga lagu klasik Indonesia yang dinyanyikan Tatjana yakni "Layu Sebelum Berkembang", "Payung Fantasi", dan "Bing". Lagu-lagu ini dipilih karena Fatmawati melalui masa muda di era 1960-an.

Shooting di Bandung

Pada press screening di Jakarta, Jumat, 16 Juni 2017, sutradara Ody C Harahap mengungkapkan, kesulitan pembuatan "Sweet 20" adalah memasukan unsur Indonesia ke cerita. Namun, sebagai penulis naskah, kata Ody, Upi melakukan hal terbaik. Dengan jeli, Upi mengambil budaya pop Indonesia yang relevan dengan konsep keluarga masa kini.
Menurut Ody, konsep klasik yang dia hadirkan pada "Sweet 20" mengacu ke karakter Fatmawati saat muda. Untuk itulah, lagu-lagu dan bagunan yang ditampilkan terkesan tua tapi tak ketinggalan zaman. Untuk menampilkan kesan lawas, Ody melakukan shooting di sejumlah titik Kota Bandung misalnya Jalan Braga, Jalan Asia Afrika, dan Balai Kota Bandung.
Hasilnya, "Sweet 20" memang menjelma menjadi film keluarga yang asyik untuk dinikmati saat Idul Fitri nanti. Unsur drama dan komedinya berkolaborasi dengan tepat, sehingga penonton tak hanya dibuat tertawa, tapi banyak hal tak terduga saat mendekati babak akhir filmnya. Dengan unsur nostalgia yang kental, "Sweet 20" menampilkan konflik-konflik yang dekat dengan keseharian, misalnya hubungan orangtua dan anak, mertua dan menantu, dan insan yang jatuh cinta

Category